fbpx

7 Tanda Bahaya Persalinan yang Perlu Ibu Waspadai, Catat!

7 Tanda Bahaya Persalinan yang Perlu Ibu Waspadai, Catat!

Proses melahirkan adalah momen yang ditunggu sekaligus membuat ibu cemas. Pasalnya, meskipun setiap ibu mengharapkan proses lahiran lancar, tetapi ada tanda bahaya persalinan yang mungkin saja terjadi.

Maka dari itu, setiap ibu perlu mengetahui tanda bahaya melahirkan mulai dari fase pembukaan serviks, hingga lahirnya bayi agar bisa lebih waspada.

Lantas, apa saja tanda bahaya persalinan yang perlu ibu waspadai? Untuk mengetahui penjelasannya, baca artikel berikut!

Tanda Bahaya Persalinan

Pada dasarnya, sejumlah bahaya persalinan cenderung sulit dideteksi, terlebih lagi apabila tanda yang muncul tergolong ringan. Untuk itu, ibu perlu lebih waspada dan tidak meremehkan setiap gejala yang dirasakan. Nah, berikut ini adalah beberapa tanda bahaya persalinan yang perlu ibu waspadai.

1. Posisi Bayi

Salah satu tanda bahaya persalinan adalah posisi bayi yang terbalik saat lahir atau sungsang. Umumnya, bayi akan lahir dengan posisi kepala terlebih dulu. Namun, ketika mengalami sungsang, bayi bisa lahir dengan posisi kaki lebih dulu. 

Biasanya, bayi yang posisinya sungsang akan dilahirkan melalui operasi caesar untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Selain posisi sungsang, bayi yang terlilit tali pusar juga berbahaya apabila dilahirkan melalui lahiran normal.

2. Preeklamsia

Tanda komplikasi persalinan lainnya adalah preeklamsia yang biasa terjadi pada awal kehamilan, hingga usia 20 minggu. Kondisi ini dapat terjadi ketika tekanan darah ibu meningkat. 

Hal ini termasuk kondisi yang berbahaya bagi ibu hamil, karena darah yang mengalir dari jantung ke plasenta akan menyempit. Preeklamsia juga menyebabkan bayi lahir prematur.

3. Persalinan Berlangsung Lama

Tanda bahaya melahirkan berikutnya adalah ibu mengalami prolonged labor atau persalinan berlangsung lama. Hal ini terjadi apabila pembukaan, hingga bayi tidak kunjung lahir melebihi 20 jam untuk ibu yang hamil anak pertama. Di sisi lain, untuk kehamilan berikutnya, rentak waktunya adalah melebihi 14 jam.

Baca Juga  Apa itu Air Ketuban? Ini Definisi & Fungsinya saat Kehamilan

Prolonged labor yang terjadi ketika pembukaan aktif ini perlu segera ditangani untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Kondisi ini juga bisa terjadi akibat kelahiran kembar, ukuran bayi terlalu besar, hingga pembukaan leher rahim yang lambat.

4. Plasenta Sulit Keluar

Tanda bahaya persalinan selanjutnya adalah plasenta sulit keluar atau tertahan di dalam rahim. Pada dasarnya, plasenta akan keluar dalam kurun waktu 30 menit pasca bayi lahir. Apabila lebih dari itu plasenta tak kunjung keluar, maka ibu mengalami retained placenta.

Kondisi tersebut bisa membahayakan nyawa ibu dan meningkatkan risiko komplikasi, seperti pendarahan berlebihan dan infeksi. Pasalnya, mengeluarkan plasenta sama pentingnya dengan melahirkan bayi. Hal ini bertujuan untuk menghentikan pendarahan dan rahim dapat berkontraksi.

Sementara itu, jika plasenta tidak dapat keluar, maka pembuluh darah tempatnya melekat akan terus berdarah dan rahim tidak bisa tertutup sempurna. Itulah yang menyebabkan ibu kehilangan banyak darah.

5. Pendarahan Berlebihan

Tanda bahaya melahirkan selanjutnya adalah ibu mengalami pendarahan berlebihan. Dalam kondisi normal, umumnya ibu akan kehilangan sekitar 500 ml darah untuk persalinan bayi tunggal. Sementara itu, apabila ibu melakukan lahiran caesar, normalnya darah yang hilang kurang lebih sebanyak 1.000 ml.

Pendarahan sendiri juga terjadi pasca plasenta keluar, karena kontraksi rahim cenderung lemah, sehingga tidak dapat menekan pembuluh darah tempat plasenta melekat. Apabila pendarahan berlebihan terjadi, ibu bisa mengalami hipertensi, plasenta previa, maupun persalinan berlangsung terlalu lama.

6. Kejang

Tanda bahaya persalinan lainnya adalah ibu mengalami kejang ketika proses melahirkan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan tatapan mata yang kosong, tubuh bergerak tak terkendali, hingga rasa waspada menurun. Kejang saat melahirkan ini juga disebut dengan istilah eclampsia.

Baca Juga  Korset Pasca Operasi Caesar: Rahasia Pemulihan Cepat

7. Rahim Robek

Tanda bahaya persalinan yang terakhir adalah rahim robek atau uterine rupture. Hal ini bisa terjadi apabila sebelumnya ibu pernah melakukan persalinan C-section. Alhasil, kemungkinan luka terbuka cenderung cukup tinggi.

Di sisi lain, apabila rahim robek, maka bayi bisa kekurangan oksigen dan risiko pendarahan berlebihan semakin meningkat. Selain itu, risiko ini juga meningkat akibat pemberian induksi, ibu hamil di atas 35 tahun, maupun ukuran bayi besar.

Tips agar Persalinan Lancar

Setiap ibu tentu mengharapkan persalinan lancar dan terhindar dari risiko komplikasi. Untuk itu, ibu perlu mencegah komplikasi kehamilan dengan sejumlah upaya. Adapun beberapa tips agar persalinan lancar, yaitu sebagai berikut.

  • Mencari tahu berbagai risiko persalinan normal dan caesar terlebih dulu.
  • Rutin kontrol ke dokter untuk memeriksa kesehatan ibu dan perkembangan janin.
  • Mengikuti kelas persiapan melahirkan normal.
  • Rajin melakukan olahraga ringan yang aman bagi ibu hamil.
  • Menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi secara rutin.
  • Mencari dukungan dari orang-orang terdekat, seperti teman, pasangan, maupun keluarga.
  • Melatih pernapasan dan melakukan yoga.
  • Mengelola stres dengan baik.

Penutup

Nah, itulah beberapa tanda bahaya persalinan yang perlu ibu waspadai. Untuk mencegahnya, ibu perlu menjaga kesehatan tubuh sejak awal kehamilan, sehingga risiko komplikasi melahirkan dapat dicegah.

Untuk itu, yuk selalu jaga kesehatan agar persalinan lancar! Jika ingin memperoleh informasi lain seputar tips kehamilan dan persalinan, baca dalam situs New Life!

Produk Pilihan
Bingung Mau Pilih Korset yang Mana?